Debu - debu mengambang naik bercumbu dengan hawa gerah di pelataran Masjid Al Muttaqin di Desa Morella, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku. Surai terik Matahari pesisir masih terasa menyengat mencambuki bumi. Hentak langkah sekitar 30 pasang pemuda bertelanjang dada di pelataran masjid yang berpasir itulah yang membuat debu berkepul dan beterbangan ke segala arah.
Bukan hanya sisa-sisa Matahari terik sore yang mencambuki punggung dan dada legam pemuda-pemuda itu, tetapi juga bilah-bilah lidi daun pohon enau. Tiga puluhan pasang pemuda itu bergantian saling mencambuk punggung dan dada pasangan masing-masing dengan lidi enau. Tangan kiri mereka menggenggam puluhan lidi enau dengan panjang rata-rata sekitar 1,5 meter, sedangkan tangan kanan mereka menyabetkan beberapa bilah lidi enau ke tubuh pasangan masing-masing.
Pemuda-pemuda itu terbagi menjadi dua regu, bergantian menjadi pihak penyabet dan yang disabet pasangan masing-masing, seiring dengan gerakan maju dan mundur. Sabetan lidi enau itu meninggalkan cabikan merah melepuh dan goresan berdarah di punggung dan dada mereka. Namun, tidak ada ringis kesakitan ataupun rintih mengaduh.
Berbalas sabet lidi enau yang mereka lakukan, sampai tubuh berdarah-darah begitu, bukanlah manifestasi dari dendam, melainkan semata-mata bagian dari upacara dan atraksi tradisional.
Ribuan penonton yang mengelilingi arena bersorak riuh menyaksikan pertunjukan itu, sambil sesekali membawa langkah mundur beberapa meter guna menghindari sabetan lidi enau yang nyasar ke arah mereka. Bagi orang biasa, satu kali saja sabetan lidi enau memang bisa membekaskan garis merah bengkak yang baru akan sembuh berhari-hari kemudian.
Pukul sapu. Itulah nama atraksi duel beberapa pasang pemuda dengan menggunakan lidi enau tersebut. Dua keunikan atraksi pukul sapu adalah tidak tampaknya kesakitan pemuda-pemuda yang saling cambuk itu, serta akan sembuhnya dalam sekejap bercak sabetan dan goresan darah akibat cambukan lidi enau tersebut. Setelah diobati, bercak sabetan dan luka-luka akan sembuh dalam sekejap tanpa meninggalkan bekas apa pun. Dua keunikan itulah yang membuat orang awam beranggapan atraksi tersebut berbau mistik.
Bersama atraksi bambu gila yang jelas-jelas menggunakan jasa makhluk halus yang dikerahkan sang pawang, pukul sapu merupakan aset tua budaya Maluku. Tidak ada catatan sejarah yang menjelaskan mana yang lebih tua di antara dua atraksi itu, yang jelas bambu gila lebih populer dibandingkan pukul sapu, tetapi pukul sapu lebih langka dibandingkan bambu gila.
Jika bambu gila bisa dimainkan di mana saja (sepanjang masih di Maluku) dan kapan saja, pukul sapu hanya dapat dijumpai di dua desa bertetangga, Desa Mamala dan Morella (sekitar 35 kilometer sebelah utara Kota Ambon) dan hanya dapat dijumpai satu kali dalam setahun, yakni pada perayaan 7 Syawalan, atau "Lebaran hari ketujuh"-menurut istilah warga setempat.
Meskipun diselenggarakan untuk merayakan 7 Syawal setiap tahunnya, pukul sapu selalu dimainkan tepat seminggu setelah Idul Fitri. Jadi, secara eksak, tiap tahunnya pukul sapu dimainkan pada tanggal 8 Syawal. Jumat (17/9)sore itu, Desa Mamala dan Morella menggelar atraksi pukul sapu secara bersamaan-pada jam yang benar-benar sama. Aparat kepolisian dan TNI berjaga-jaga di mana-mana, mengantisipasi perkelahian antarwarga Desa Asilulu dan Ureng yang juga berada di Kecamatan Leihitu beberapa hari sebelumnya, menyebar di Desa Mamala dan Morella.
Sejumlah pejabat turut hadir di Desa Mamala dan Morella, termasuk Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu yang baru tiba di Ambon hari itu dan menyempatkan bergantian menyaksikan pukul sapu di kedua desa itu. Sebelum berduel dengan pasangan masing-masing, pemuda-pemuda pemain pukul sapu di Desa Mamala maupun di Desa Morella mempersilakan para pejabat itu mencambuk tubuh mereka dengan lidi enau-tentu saja bagian ini tidak dilakukan secara berbalasan.
"Pukul lagi, Pak! Yang keras! kuat-kuat! Ya, begitu!" teriak pemuda-pemuda itu sambil mengangkat kedua tangan mereka, menyediakan dada dan punggung mereka. Sama sekali tidak ada mimik kesakitan. Bukan ringis menahan sakit yang menghiasi wajah mereka, melainkan cengiran enteng. Ribuan penonton yang menyaksikan kegagahan pemuda-pemuda itu bukan hanya warga desa-desa sekitar, tetapi juga warga Kota Ambon yang rela berpatungan membayar biaya carter bus dan mobil pick-up.
Walapun atraksi pukul sapu merupakan atraksi rutin tahunan Desa Mamala dan Morella, serta tidak ada hubungannya dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, tetap saja kegiatan tersebut menjadi salah satu andalan Dinas Pariwisata Maluku dalam mengangkat kembali pamor pariwisata yang terpuruk akibat kerusuhan di wilayah Maluku. Menurut Kepala Dinas Pariwisata Maluku Ny PA Titaley, pukul sapu dan bambu gila termasuk primadona "jualan" Dinas Pariwisata Maluku.
Menurut Ny Titaley, untuk mengangkat kembali citra pariwisata di Maluku, tahun ini Dinas Pariwisata Maluku melibatkan langsung masyarakat dan mengandalkan wisatawan lokal yang berasal dari sekitar Maluku.
Berdasarkan catatan Dinas Pariwisata Maluku, pada tahun 1998 (sebelum meletus kerusuhan pertama di Ambon tanggal 19 Januari 1999) wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Maluku mencapai 14.258 orang, dan wisatawan nusantara (wisnus) 14.560 orang. Tahun 1999, jumlah wisman tercatat 650 orang, sedangkan wisnus 488 orang. Tahun 2000, jumlah wisman 203 orang, wisnus 732 orang. Selanjutnya, tahun 2001, wisman yang berkunjung ke Maluku tercatat 510 orang, sedangkan wisnus 5.000 orang.
"Tahun ini sampai dengan bulan Oktober jumlah wisman yang datang ke Maluku kembali turun menjadi 385 orang, sedangkan wisnus diestimasikan 14.000 orang. Sementara jumlah wisatawan lokal yang sebelumnya tidak didata, tahun ini mencapai 15.000 orang. Wisatawan lokal ini diharapkan mampu menjadi tonggak kebangkitan kembali pariwisata Maluku. Selain menjual daya tarik tempat-tempat wisata pantai, Dinas Pariwisata Maluku mulai giat menjual atraksi budaya asli Maluku, antara lain pukul sapu dan bambu gila," kata Ny Titaley.
Jika bambu gila bisa dimainkan di mana saja (sepanjang masih di Maluku) dan kapan saja, pukul sapu hanya dapat dijumpai di dua desa bertetangga, Desa Mamala dan Morella (sekitar 35 kilometer sebelah utara Kota Ambon) dan hanya dapat dijumpai satu kali dalam setahun, yakni pada perayaan 7 Syawalan, atau "Lebaran hari ketujuh"-menurut istilah warga setempat.
Meskipun diselenggarakan untuk merayakan 7 Syawal setiap tahunnya, pukul sapu selalu dimainkan tepat seminggu setelah Idul Fitri. Jadi, secara eksak, tiap tahunnya pukul sapu dimainkan pada tanggal 8 Syawal. Jumat (17/9)sore itu, Desa Mamala dan Morella menggelar atraksi pukul sapu secara bersamaan-pada jam yang benar-benar sama. Aparat kepolisian dan TNI berjaga-jaga di mana-mana, mengantisipasi perkelahian antarwarga Desa Asilulu dan Ureng yang juga berada di Kecamatan Leihitu beberapa hari sebelumnya, menyebar di Desa Mamala dan Morella.
Sejumlah pejabat turut hadir di Desa Mamala dan Morella, termasuk Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu yang baru tiba di Ambon hari itu dan menyempatkan bergantian menyaksikan pukul sapu di kedua desa itu. Sebelum berduel dengan pasangan masing-masing, pemuda-pemuda pemain pukul sapu di Desa Mamala maupun di Desa Morella mempersilakan para pejabat itu mencambuk tubuh mereka dengan lidi enau-tentu saja bagian ini tidak dilakukan secara berbalasan.
"Pukul lagi, Pak! Yang keras! kuat-kuat! Ya, begitu!" teriak pemuda-pemuda itu sambil mengangkat kedua tangan mereka, menyediakan dada dan punggung mereka. Sama sekali tidak ada mimik kesakitan. Bukan ringis menahan sakit yang menghiasi wajah mereka, melainkan cengiran enteng. Ribuan penonton yang menyaksikan kegagahan pemuda-pemuda itu bukan hanya warga desa-desa sekitar, tetapi juga warga Kota Ambon yang rela berpatungan membayar biaya carter bus dan mobil pick-up.
Walapun atraksi pukul sapu merupakan atraksi rutin tahunan Desa Mamala dan Morella, serta tidak ada hubungannya dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, tetap saja kegiatan tersebut menjadi salah satu andalan Dinas Pariwisata Maluku dalam mengangkat kembali pamor pariwisata yang terpuruk akibat kerusuhan di wilayah Maluku. Menurut Kepala Dinas Pariwisata Maluku Ny PA Titaley, pukul sapu dan bambu gila termasuk primadona "jualan" Dinas Pariwisata Maluku.
Menurut Ny Titaley, untuk mengangkat kembali citra pariwisata di Maluku, tahun ini Dinas Pariwisata Maluku melibatkan langsung masyarakat dan mengandalkan wisatawan lokal yang berasal dari sekitar Maluku.
Berdasarkan catatan Dinas Pariwisata Maluku, pada tahun 1998 (sebelum meletus kerusuhan pertama di Ambon tanggal 19 Januari 1999) wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Maluku mencapai 14.258 orang, dan wisatawan nusantara (wisnus) 14.560 orang. Tahun 1999, jumlah wisman tercatat 650 orang, sedangkan wisnus 488 orang. Tahun 2000, jumlah wisman 203 orang, wisnus 732 orang. Selanjutnya, tahun 2001, wisman yang berkunjung ke Maluku tercatat 510 orang, sedangkan wisnus 5.000 orang.
"Tahun ini sampai dengan bulan Oktober jumlah wisman yang datang ke Maluku kembali turun menjadi 385 orang, sedangkan wisnus diestimasikan 14.000 orang. Sementara jumlah wisatawan lokal yang sebelumnya tidak didata, tahun ini mencapai 15.000 orang. Wisatawan lokal ini diharapkan mampu menjadi tonggak kebangkitan kembali pariwisata Maluku. Selain menjual daya tarik tempat-tempat wisata pantai, Dinas Pariwisata Maluku mulai giat menjual atraksi budaya asli Maluku, antara lain pukul sapu dan bambu gila," kata Ny Titaley.
TRADISI pukul sapu lahir pada zaman penjajahan Belanda, pada pertengahan abad XVII. Kepala Desa Morella Abd. Kadir Latukau menjelaskan, pukul sapu pertama kali dimainkan oleh kapitan-kapitan dari seluruh pelosok Maluku yang berusaha mempertahankan Benteng Kapapaha, ketika benteng yang berlokasi sekitar tiga kilometer dari Desa Morella dan Mamala itu diserbu Belanda.
"Ketika Benteng Kapapaha jatuh ke tangan Belanda, sebagai upacara perpisahan, para kapitan itu mengambil lidi enau dan melakukan tarian saling cambuk punggung dan dada dengan lidi enau itu sampai berdarah-darah. Maksud tarian itu, supaya darah mereka jatuh dan meresap ke tanah, agar mereka suatu saat bisa berkumpul lagi di sana," kata Dade_sapaan akrab Abd. Kadir Latukau_, yang mengepalai Desa Morella sejak tahun 2005.
Berbeda dengan atraksi bambu gila, tidak ada semacam pawang yang memimpin pukul sapu, hanya ada satu orang yang berteriak-teriak memberi komando gerak maju dan mundur. Sebaliknya, jika pemuda pemain bambu gila tidak perlu menjalani ritual khusus, para pemuda pemain pukul sapu harus lebih dulu melakukan meditasi di dalam rumah adat (wakang) sebelum melakukan atraksi. Ketika beraksi, pemain pukul sapu harus mengikatkan kain di kepala mereka, menutupi telinga. Ini bukan termasuk syarat ritual, melainkan agar daun telinga mereka tidak tertebas lidi enau. "Kalau tidak ditutupi, daun telinga bisa putus tertebas lidi enau," jelas Latukau.
Latukau yang pernah ikut bermain pukul sapu menegaskan, tidak ada hal mistik dan gaib di balik atraksi pukul sapu. "Kalau mereka kelihatan tidak merasa sakit, itu karena semangat mereka mengalahkan rasa sakit. Selanjutnya, kalau bekas sabetan dan luka-luka di punggung mereka sembuh dalam sekejap, itu karena khasiat getah daun jarak yang memang bisa cepat menyembuhkan luka," kilah Latukau.
Satu hal yang membedakan pukul sapu di Desa Morella dengan pukul sapu di Desa Mamala adalah proses penyembuhan bercak bekas sabetan dan luka-luka di sekujur badan. Kalau pemain pukul sapu di Desa Morella, sebagaimana dipaparkan Latukau, memoleskan getah daun jarak di tubuh masing-masing sehabis berlaga, pemuda-pemuda Desa Mamala menggunakan minyak kelapa khusus yang disebut minyak Mamala. Kedua cara itu akan menyembuhkan goresan cam bukan dan luka-luka dalam satu-dua hari tanpa meninggalkan bekas sama sekali.
Baik menggunakan getah daun jarak ala Desa Morella ataupun menggunakan minyak Mamala, setelah goresan dan luka-luka pada tubuh diolesi obat tersebut, pemain pukul sapu dilarang mandi. Keesokan paginya, setelah luka-luka mengering, mereka baru diperbolehkan mandi. Biasanya, pada siang atau sore hari, goresan dan luka-luak itu sudah hilang tanpa bekas.
Menurut Salim Sialana, warga Desa Mamala yang beberapa kali pernah ikut main atraksi tradisional itu, memang tidak ada rasa sakit ketika cambukan lidi-lidi enau menghantam tubuh.
Sialana menuturkan, setiap tahun warga desanya wajib menyelenggarakan upacara sekaligus atraksi pukul sapu. Jika tidak, katanya, desanya akan mengalami musibah.
Ditanya, apakah pernah hal itu terbukti, Sialana menggeleng. "Karena katong (kami) sejak dulu tiap tahun pasti mengadakan pukul sapu pada Lebaran hari ketujuh," katanya, di saat Matahari tua terbenam meninggalkan kedua desa pesisir itu.
Sekiranya apa yang dikemukakan Sialana benar, mungkin atraksi pukul sapu perlu dilaksanakan tidak hanya di Desa Mamala dan Morella, melainkan di seluruh wilayah Maluku. Juga, tidak perlu setahun sekali, melainkan sesering mungkin. Bukan semata-mata supaya wisatawan beramai-ramai kembali datang ke Maluku sebagaimana yang diharapkan Ny Titaley, melainkan agar bumi Maluku terhindar dari musibah, dan kerusuhan serta segala ledakan bom cepat berakhir.
Getah daun jarak dan minyak Mamala juga perlu dioleskan ke hati segenap lapisan masyarakat, supaya dendam tersembuhkan dan sirna seketika berganti kasih. Ketika Matahari sudah benar-benar ditelan ufuk barat, Sialana dan warga lainnya beranjak pulang ke rumah masing-masing.
Gelap mulai merayap. Debu-debu yang sore harinya beterbangan memenuhi udara sudah kembali turun menyatu dengan Bumi. Langkah harus diayun meninggalkan kedua desa pantai itu. Sampai jumpa tahun depan, pemuda-pemuda gagah!

jelek sekali tulisan mu bro, belajar di mana Q..???
BalasHapus